Langsa – Setiap tanggal 15 Agustus, rakyat Aceh memperingati tonggak sejarah yang tidak terlupakan—hari perdamaian Aceh yang lahir dari kesepakatan MoU Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia.
Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2005 ini bukan hanya menjadi akhir dari konflik berkepanjangan, tetapi juga menjadi landasan bagi Aceh untuk melangkah maju dalam jalur pembangunan dan kesejahteraan.
Setelah bertahun-tahun terjebak dalam konflik berdarah, perdamaian yang lahir dari MoU Helsinki menjadi sinar harapan baru.
Tidak ada lagi tumpah darah, tidak ada lagi tangis dari kedua belah pihak, baik GAM maupun aparat pemerintah, serta masyarakat sipil yang tak berdosa.
Aceh, yang dulu didera perang, kini berdiri tegak sebagai daerah yang berjuang menuju masa depan yang lebih baik.
Sosok sentral di Aceh, Tgk. Usman Abdullah, SE, mantan Walikota Langsa dua periode dari Partai Aceh, menyampaikan pandangannya terkait peringatan ini. Menurutnya, perdamaian yang telah tercipta harus terus dijaga dan dikembangkan.
“Saya berharap dan meminta kepada Pemerintah RI agar apa yang telah tersirat dalam MoU Helsinki dapat dilaksanakan sepenuhnya,” tegas Usman Abdullah saat ditemui di kediamannya pada Kamis (15/8).
Ia menekankan pentingnya implementasi penuh dari MoU tersebut agar perdamaian yang sudah diwujudkan tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat membawa harapan baru bagi kemajuan Aceh di masa depan.
“Ini perlu dilakukan untuk menjaga agar apa yang sudah terwujud selama ini dapat terus berlanjut dan terjaga hingga nantinya akan membawa harapan baru bagi kemajuan Aceh ke depan,” lanjutnya.
Dalam konteks kepemimpinan yang diharapkan oleh rakyat Aceh, Usman Abdullah memberikan pandangan yang tajam namun dengan nada yang ringan. Menurutnya, sosok pemimpin yang ideal adalah mereka yang bekerja dengan ikhlas untuk kepentingan rakyat.
“Masyarakat harus cerdas dalam menentukan pemimpinnya ke depan. Pilihlah pemimpin yang mau berbuat untuk kepentingan rakyat, yang bekerja dengan hati, dan yang berpengabdian untuk kemajuan bersama,” pungkasnya.
Peringatan hari perdamaian Aceh ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bahwa perdamaian yang sudah diraih harus terus dijaga.
Di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berkembang, harapan akan sosok pemimpin yang ikhlas dan bekerja untuk rakyat tetap menjadi harapan utama masyarakat Aceh.
Hanya dengan itu, Aceh dapat melangkah lebih mantap menuju masa depan yang lebih cerah, membangun fondasi perdamaian yang telah ditorehkan dengan darah dan air mata, menjadi mercusuar kemajuan bagi seluruh rakyatnya.
