Tapaktuan – Tudingan Razikin melalui surat somasi yang dikirimkan melalui whats app pribadi dengan dalih penyebaran berita bohong di grup whats app dinilai terlalu lebay. Pasalnya tidak pernah ada arahan atau suruhan dirinya itu digrup.
“Jadi itu chat pribadi, candaan dengan teman kemudian saudara Abdurrahman atau Edo mengirimkan hal itu ke grup whats app Aceh Selatan. Lalu, pertanyaannya apakah itu namanya saya yang sebarkan berita bohong, kan bukan saya yang sebarkan di grup dan tidak pernah saya suruh sebarkan di grup. Makanya saya heran dengan tudingan itu, seharusnya dijelaskan berita bohongnya dimana, apakah saya yang sebarkan ke grup, kan tidak,” ungkap Delky Nofrizal Qutni Senin 29 April 2024.
Dia juga heran, pasalnya berita tersebut juga tidak ada karena memang candaan biasa. “Jika memang saya yang sebarkan, kenapa harus demikian. Kan bisa saja saya tulis langsung di media. Lagian memang ada beritanya, kalau Bang Razikin yang dulu yang maju, kenapa tidak kita dukung, kan gitu,” ujarnya.
Di awal, kata Delky, kita memang inginnya ada perwakilan anak muda yang sekiranya tepat untuk bertarung di Pilkada Aceh Selatan. Salah satu sosok itu kita pikir saudara Razikin. “Bg Razi itu kawan saya, dia sudah lama di dunia politik, sudah pernah rasakan menang dan juga pernah pula kalah. Jadi kenapa tidak beliau maju untuk maju Cawabup, mengingat perlu ada keterwakilan politisi muda, masalah siapa yang tepat untuk calon bupatinya nanti kita pikir. Namun jika belum diusulkan saja sudah somasi bagaimana jika memang benar-benar diusulkan untuk bakal calon wakil bupati. Nanti masyarakat yang usulkan pikir yang usulkan sedang dukung melakukan kebohongan. Yasudah gak usah lagi dech beliau diusul untuk balon wakil bupati, beliau ntar tersinggung dan somasi,” jelasnya.
Dia juga mengatakan mengenai beda pandangan dan dukungan politik pada pemilu antara dirinya dengan Razikin sudah selesai dan selama ini biasa saja tetap komunikasi dan bercanda. “Karena beliau selama ini biasanya dewasa dalam perbedaan pilihan politik makanya kami kira tepat untuk diusung dari kalangan muda, namun apakah pasca pemilu beliau sudah beda model somasi-somasi begitu saya juga tidak tau, biar kawan-kawan yang menilainya,” kata Delky.
Dia mengaku terkejut dengan sosok Razikin pasca pemilu yang terkesan muda tersinggung. “Unsur penyebaran berita bohongnya dimana, kalau pun tersinggung dan merasa dirugikan kenapa. Apakah jika diusul sebagai cawabup itu merasa dirugikan, lagian berita nya nggak ada dan bukan saya yang sebarkan ke grup. Silahkan ajha buka link beritanya kan gak ada jadi belum jadi berita donk cuma chat pribadi kan. Makanya ketika tiba-tiba bg Razi whats app saya terkait somasi bahkan minta permohonan maaf tertulis ke saya, saya cukup balas wa kalau Abang tersinggung diisukan untuk didukung sebagai calon wakil bupati ya saya minta maaf. Kalau berita saya sekali lagi tegaskan tidak pernah saya sebarkan atau suruh sebarkan ke grup Aceh Selatan on The Word itu. Kalau respon publik memang bagus dengan munculnya sosok beliau, memang kita nyatakan dukungan, toh abg kita ngopi koq kenapa takut kita dukung. Plus minus beliau kita sudah tau koq,” tambahnya.
Jadi, kata Delky, somasi seperti itu biasa lagian memang tidak pernah dirinya yang sebarkan ke grup atau buat berita. “Kalau beliau gak tiba-tiba chat somasi gitu dan tanyain baik-baik, saya justru mau tanya abg mungkin dan siap kita usul sama-sama untuk cawabup, kalau siap ayo kita konsolidasikan. Ne gak jadi lagi dech kita tanya, karena belum apa-apa sudah somasi padahal belum ada berita nya. Itupun chat pribadi masalah kemudian saudar Edo ingin cek ombak lihat respon publik, ya itu diluar itu. Boleh tu buka FB atau akun medsos saya, jadi belum kita sebarkan atau suruh sebarkan ke siapapun. Lagian belum ada beritanya, jadi dimana letak berita bohongnya, memang belum ada beritanya koq, seharusnya dijelaskan beritanya naik dimana, kemudian siapa yang sebarkan ke grup atau apakah pernah ada suruhan untuk disebarkan ke grup,” imbuhnya.
Delky menyebutkan, kalau bicara personal chat lalu kemudian diedarkan oleh pihak lain, tanyakan kepada yang edarkan. “Seharusnya tanyakan kepada pihak yang edarkan ke grup bukan tiba-tiba somasi ke saya. Kalau saya pengen edarkan ya saya buat pernyataan dulu dukung kandidat A atau B di media baru saya kirim ke grup langsung, gitu atau saya posting di FB atau Instagram pribadi saya. Itu lain hal, memang chat pribadi dan juga bukan berita kan. Misal jauh sebelum pemilu beliau sering chat saya secara pribadi baik serius atau bercanda, apakah kemudian saya somasi atau pihak terkait somasi, kan juga tidak, karena konteks privasi kan,” katanya lagi.
Sebenarnya kalau kita cek grup whats app beliaupun pernah sampaikan tudingan ke politisi tertentu dengan tudingan bagi-bagikan uang yang jelas-jelas sulit dibuktikan, dan tudingan yang seperti yang pernah sampaikan digrup itu lebih jelas merugikan pihak tersebut. Namun biasa saja, tak ada itu somasi-somasi oleh tim atau politisi yang disebut beliau itu. Karena politisi dan tim politisi itu sudah dewasa. “Jadi berdebat di grup whats app itu biasa, ada isu atau usulan sipulan pasangan sipulan biasa, toh semua sudah dewasa dalam berpolitik. Apakah itu dianggap bohong juga dan melanggar UU ITE? Apalagi ini saya tidak pernah share ke grup whats app tersebut atau menyuruh untuk share ke grup itu kepada saudara Edo. Jadi, kalaupun boleh, saya sarankan sebagai kawan ke Bang Razi tetap dinamis dan seperti biasa, kalau dikit-dikit somasi apalagi kepada orang yang tak pernah menyebarkan ke grup dijadikan landasan somasi, nanti semua hal somasi dech larinya. Tetap jadi bg Razi yang dulu ajha lebih asyik, bahkan berdebat tajam sekalipun sebelumnya biasa tatap ngopi dan ngobrol atau mungkin pasca pemilu sudah beda itu kita juga tak tau kenapa? Tapi terlepas dari itu, subtansinya itu sebatas chat pribadi dan candaan pribadi, tidak pernah disuruh sebar ke grup atau menyebarkannya, jadi menyebarkan berita bohong itu terlalu berlebihan dan tandesius tudingannya. Bedahalnya saya menyebarkan hal yang jelek tentang beliau, ini juga kan tak ada, jadi dirugikan dimana penyebaran berita bohongnya gimana, koq tiba-tiba beliau tersinggung hingga somasi. Sesuatu banget,” katanya.
Dia mengatakan, lebih tepatnya jika misalkan seorang calon pejabat atau katakan dewan berjanji kepada masyarakatnya. Namun setelah jadi dia tidak memenuhi janjinya lalu masyarakat yang dijanjikan menuding itu adalah kebohongan dan melakukan somasi. “Ini chat sifatnya privasi, lalu ada yang edarkan di grup whats app tanpa pernah disuruh namun beritanya pun tak ada. Apakah itu juga pelanggaran dan disomasi dengan UU ITE. Kalau semudah itu somasi, maka nanti semua hal yang kurang pas secara pribadi akan jadi somasi, jadi tak ada ruang pribadi, ruang publik, ruang diskusi, debat dan kebebasan dalam berdemokrasi,” pungkasnya.
