Sipnews.id Sabang.Masjid Agung Babussalam atau yang dikenal Masjid Raya Sabang merupakan salah satu masjid terbesar di Kota Sabang yang terletak di tengah kota Sabang. Menjadi salah satu dengan arsitektur indah bergaya timur tengah. Masjid Raya Sabang ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat muslim dan menjadi salah satu tempat wisata religi di Sabang. Masjid ini dibangun atas inisiatif walikota pertama Kota Madya Sabang yaitu Tengku Harun Ali pada tahun 1970.
Masjid Agung Babussalam Sabang menjadi salah satu dimana sering sekali wisatawan berkunjung ke masjid ini baik untuk beribadah mengabadikan foto dan lain sebagainya. Masjid ini sangat rapi dan bersih sehingga membuat masjid ini sangat cocok untuk berwisata religi selama di Sabang. Masjid yang dibangun dengan dana pembangunan yang disumbang oleh pemerintah kota dan masyarakat ini direnovasi pada tahun 2002 dan selesai pada 2006.
Di tengah deru mesin kendaraan yang membelah jantung kota, berdiri sebuah bangunan yang menjadi jangkar spiritual bagi masyarakat Sabang: Masjid Agung Babussalam.
Perluasan Masjid Raya Sabang atau Masjid Agung Babussalam ini dengan perluasan bangunan di kiri dan kanan masjid, pembangunan empat Menara, tempat wudhu bawah tanah, toilet, kubah dan juga relif di beberapa tempat dalam dan luar masjid. Di pekarangan masjid juga dibangun beberapa fasilitas seperti Balee (Rumah Berkumpul) untuk aktivitas kerukunan dan pertemuan, madrasah dan asrama.Bagi para pelancong yang mencari ketenangan di sela-sela petualangan bahari di Pulau Weh, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah tempat persinggahan yang menawarkan keteduhan wisata religi dalam balutan arsitektur yang Keunikan di Setiap Sentuhan
Daya tarik masjid ini sudah terasa bahkan sebelum kita melangkah masuk. Saat menyentuh pintu-pintu besarnya, pengunjung akan disambut oleh ukiran yang sangat indah dan detail. Pegangan pintunya yang khas memberikan kesan unik, seolah mengajak siapa pun yang membukanya untuk sejenak berhenti dan mengagumi keahlian kriya tersebut.
Langkah pertama memasuki pelataran langsung disambut oleh kemegahan kubah-kubah besarnya. Perpaduan warna hijau pada kubah pendamping dan warna perunggu pada kubah utamanya tampak kontras namun serasi dengan langit biru Sabang yang cerah. Arsitektur Masjid Babussalam memadukan nuansa putih dan perunggu dengan aksen lokal yang kental. Garis-garis geometris pada dindingnya tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi juga dirancang cerdas untuk menciptakan sirkulasi udara alami.
Oase di Tengah Terik Pesisir
Begitu melewati pintu utama, hawa sejuk seketika menyergap. Dinding-dinding masjid ini seolah memiliki kemampuan magis untuk meredam teriknya matahari pesisir. Lantai marmer yang dingin serta hamparan karpet lembut di dalamnya mengundang siapa saja untuk bersimpuh sejenak, melepas penat dari hiruk-pikuk duniawi.
Interior masjid dirancang khusus untuk menghadirkan kekhusyukan. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah-celah ventilasi memberikan pencahayaan alami yang lembut, menciptakan suasana tenteram yang syahdu. Di sini, pengunjung tidak hanya disuguhi keindahan visual, tetapi juga atmosfer spiritual yang mendalam.
Harmoni di Gerbang Sabang
Bagi wisatawan, merasakan kekhusyukan di sini adalah pengalaman yang berbeda. Ada harmoni yang tercipta dari berbagai elemen: mulai dari lantunan ayat suci yang menggema syahdu menjelang azan Magrib, hingga detail kaligrafi pada lingkar dinding bagian atas yang memanjakan mata. Halamannya yang luas memungkinkan pengunjung untuk benar-benar beristirahat sejenak dari panjangnya perjalanan mengeksplorasi Sabang.
Duta Wisata Sabang, Cut Adek Humaira, melihat bahwa Masjid Agung Babussalam bukan sekadar tempat ibadah, melainkan “rumah” bagi para wisatawan.
“Masjid ini adalah tempat rehat sejenak untuk menikmati Sabang dari porsi yang disajikan di gerbang kota. Kerap kali wisatawan yang tiba pada sore hari langsung menuju Masjid Babussalam untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan atau mencari kuliner malam,” ujarnya.
Saksi Bisu Napas Keislaman
Masjid Babussalam adalah saksi bisu bagaimana napas keislaman menyatu erat dengan keseharian warga. Letaknya yang strategis di pusat kota menjadikannya titik kumpul yang hangat. Keramahtamahan pengurus masjid dan warga setempat dalam menyambut wisatawan—baik yang ingin beribadah maupun sekadar mengagumi arsitektur—mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan di balik dinding suci ini.
Menutup hari di Masjid Babussalam saat azan Magrib berkumandang adalah puncak dari perjalanan religi ini. Suara muazin yang menggema di antara perbukitan dan laut seolah memanggil jiwa untuk kembali tenang. Di balik dinding Masjid Babussalam, kita diingatkan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada tempat untuk “pulang” dan bersujud dalam kedamaian yang hakiki.
