Humaira
Sipnews.id Menikmati Mie Bang Sam (atau Mie B’Sam) di Jl. Perdagangan No. 104, Kuta Timu, Sabang adalah Perjalanan Kuliner Ikonik yang memadukan kelezatan kuah kental autentik dengan pesona bangunan yang bernuasa Klasik . Tempat ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menyantap hidangan legendaris di Pulau Weh.
- Cita Rasa Autentik: Dikenal dengan bumbu rempah yang kuat, kuah kental yang gurih, dan kematangan mi yang pas (tidak terlalu lembek). Tersedia pilihan variasi yang menggunakan mi instan maupun mi kuning khas Aceh
- Suasana Tempo Dulu: Berlokasi di kawasan pecinan lama Sabang yang dikelilingi arsitektur tua. Menyeruput kuah hangat di kawasan ini memberikan atmosfer nostalgia dan romantika khas kota pelabuhan masa lampau.
- Varian Menu: Selain mie goreng atau kuah, tempat ini populer dengan racikan minuman lokal seperti teh tarik yang menyegarkan.
- Fasilitas & Layanan: Menyediakan area bersantap outdoor dan dine-in dengan suasana yang santai dan cocok untuk berkumpul bersama.
Ketika matahari terbenam di ufuk barat Pulau Weh dan azan Magrib mulai berkumandang, sebuah sudut di Kota Sabang perlahan mulai bernapas. Di saat sebagian besar aktivitas warga meredup, Mie Bang Sam justru baru memulai ceritanya.
Terletak tepat di jantung kota, di Jalan Perdagangan, kedai ini berdiri tegak di bawah pohon beringin besar yang memberikan suasana vintage yang kental. Mie Bang Sam bukan sekadar tempat makan, ia adalah mesin waktu. Didirikan sejak tahun 2003 saat saya sendiri baru berusia satu tahun kedai ini tetap setia menjaga atmosfer Sabang masa lalu di tengah gempuran modernitas.
Dibuka tepat setelah waktu salat Magrib hingga pukul dua dini hari, Mie Bang Sam telah menjadi titik kumpul favorit bagi mereka yang mencari kehangatan di tengah sejuknya angin malam kepulauan. Begitu menginjakkan kaki di sana, pengunjung langsung disambut dengan arsitektur dan interior yang autentik. Meja-meja kayu tua dan pencahayaan yang temaram menciptakan ruang diskusi yang akrab, membawa kita kembali ke ritme hidup tempo dulu yang tenang.
Daya tarik utama tempat ini terletak pada rahasia dapurnya. Mie Aceh yang disajikan memiliki karakter bumbu yang sangat kuat dan meresap. Tekstur mienya kenyal sempurna, dibalut kuah kental yang kaya akan rempah pilihan. Setiap suapan menawarkan keseimbangan antara rasa pedas dan gurih yang menggugah selera.
Menariknya, pendamping setia menyantap mie di sini adalah Limun. Minuman karbonasi klasik ini seolah menjadi pelengkap sempurna bagi mereka yang ingin bernostalgia. Rasa manis dan segar dari limun dingin di tengah pedasnya rempah Mie Aceh menciptakan harmoni rasa yang sulit dilupakan. Dan merupakan salah satu dari 2 tempat yang masih menyediakan minuman legendaris ini di sabang. Kamu hanya meronggoh kocek sebesar Rp. 12.000 untuk seporsi mienya.
Duta Wisata Sabang, Cut Adek Humaira, menilai bahwa Mie Bang Sam adalah salah satu ikon culinary heritage yang harus dijaga. Baginya, tempat ini adalah representasi wajah asli Sabang yang ramah dan penuh sejarah.
“Makan di Mie Bang Sam itu seperti sedang merawat ingatan tentang Sabang. Antara bumbu mienya yang luar biasa nikmat, kesegaran limun klasiknya, hingga suasana di bawah beringin yang ikonik, semuanya terasa pas. Sebagai Duta Wisata, saya melihat tempat ini bukan hanya soal kuliner, tapi tentang bagaimana kita merayakan warisan rasa yang tetap hidup dan relevan hingga saat ini. Ini adalah cara terbaik untuk menutup hari dengan tenang di Sabang,” ungkap Humaira.
Menjelang tengah malam, suasana justru semakin hidup. Aroma tumisan bumbu yang harum terbawa angin, bercampur dengan tawa kecil dan obrolan hangat para pengunjung. Bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, Mie Bang Sam adalah sebuah romansa. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, mengizinkan setiap orang untuk benar-benar menikmati setiap jengkal rasa dan kebersamaan.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, kepulan asap dari dapur Bang Sam tetap setia menemani kesunyian malam Sabang. Berkunjung ke sini bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan tentang meresapi sisi romantis dari sejarah yang tetap terjaga di atas piring kita.( ADV)
