SIPNEWS.ID|Nagan Raya – Di ufuk Nagan Raya, wacana investasi dua ratus triliun rupiah menggema, namun di lembah hijau Beutong Ateuh Banggalang, tak ada riuh sorak yang menyambutnya.
Bukan karena rakyat benci pada cahaya kemajuan, bukan pula karena warga buta akan peta masa depan.
Penolakan yang terus disuarakan ini adalah wujud pertahanan, sebuah tameng baja untuk menjaga ruang kehidupan, agar sejarah tak tenggelam dalam arus kerakusan, dan martabat daerah tak tergadai oleh dalih pembangunan.
Bagi masyarakat di ujung pegunungan ini, setiap jengkal tanah memiliki hak untuk menentukan arah takdirnya sendiri.
Tokoh Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Tgk Diwa Laksana, angkat bicara dengan nada yang penuh tenaga.
Baginya, kedaulatan daerah tak boleh diketuk oleh palu pendatang yang buta akan luka masa silam.
“Jika memang tambang itu diyakini membawa kepingan surga, silakan bawa dan tanam di tanah yang merindukannya. Jangan paksa rahim bumi kami yang sejak awal menolak angkara. Kalau investasi itu menguntungkan dan membawa berkah, berikan pada mereka yang menengadah. Kami di sini memilih merawat sejarah, menolak menyerah pada kuasa yang menjajah,” tegas Tgk Diwa Laksana, Minggu (31/05/2026).
Ia mengingatkan, Beutong Ateuh bukanlah ruang hampa tanpa jiwa, melainkan hamparan bumi yang disiram keringat leluhur dan air mata syuhada.
Kawasan ini memeluk erat peristiwa masa lalu yang pedihnya belum sepenuhnya reda, menyisakan luka menganga dan tanya yang tak pernah terjawab oleh negara.
Menjadikan tanah suci ini sekadar objek eksploitasi alam, sama halnya dengan menabur garam di atas duka yang terdalam.
Dari barisan pemuda, getar perlawanan kian beringas dan merdeka. Tokoh Pemuda Beutong, Ismail Zed, menolak keras anggapan bahwa wilayah mereka adalah aset murah yang bisa dijamah dengan gegabah.
Baginya, masa muda bukanlah masa untuk berdiam diri melihat tanah air dikikis hingga tak bersisa.
Ia menampik tudingan bahwa penolakan ini disetir oleh tangan asing, melainkan murni dari nurani pemuda yang tak sudi alamnya menjadi kering.
“Beutong Ateuh bukan sekadar deretan angka investasi yang bisa dihitung dan dilipat di atas kertas. Di sini ada makam leluhur yang kami jaga batas-batasnya, ada kenangan perlawanan yang tak pernah tuntas. Menolak tambang adalah wujud nalar yang waras, agar generasi esok tak mewarisi alam yang amblas. Kami yang bernapas di tanah ini, kami yang akan menanggung perihnya esok hari. Suara kami bukan untuk dikebiri, melainkan hak asasi yang wajib dihormati,” seru Ismail Zed dengan tatapan awas.
Tak hanya dari kaum adam, jerit perlawanan kian menyatu dari barisan para ibu yang setia menjaga pintu.
Saudah, Ketua Organisasi Perempuan Beutong Bersatu (PBB), menyuarakan rintihan hati kaum hawa yang tak rela hutan dan sungainya berubah warna menjadi abu. Bagi perempuan Beutong, alam adalah detak jantung yang menghidupi denyut nadi keluarga sedari dulu.
“Alam ini ibarat ibu yang tak pernah pamrih memberi kami susu, bukan sekadar onggokan batu yang bebas digali dan dijual saat kalian mau. Luka masa lalu kami saja belum sembuh membiru, jangan kalian tambah dengan derita yang baru. Pembangunan sejati tak akan membunuh masa depan cucu, ia harus datang dengan restu, bukan dengan paksaan dan alat berat yang membelenggu,” urai Saudah, suaranya lantang namun menyayat kalbu.
Di akhir narasi perlawanan ini, masyarakat Beutong Ateuh Banggalang berdiri merapatkan barisan, menitipkan pesan yang tak bisa ditawar oleh segala jenis ancaman.
Mereka meminta kepada seluruh pemangku kebijakan, agar berhenti menjadikan angka triliunan sebagai alasan untuk merampas ruang kehidupan.
“Sebanyak apa pun modal yang ditebar, tak akan mampu menutupi luka yang pernah berkobar. Emas dan perak takkan sebanding dengan napas, uang triliunan bukanlah harga untuk kebebasan yang dirampas. Beutong Ateuh tidak untuk ditawar di pasar, takkan sudi menjadi tanah yang dibakar. Tanah ini akan terus kami jaga agar tetap mekar, diwariskan kepada anak cucu sebagai mercusuar, dan kami selamanya takkan pernah gentar.” Demikian tanggapan Saudah.
