SIPNEWS.ID, Banda Aceh – Di bawah langit Minggu pagi yang teduh (14/09/2025), Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh menjadi saksi langkah kaki yang berpadu dalam harmoni tradisi.
Sanggar Cut Nyak Dien Meuligoe Gubernur Aceh berkolaborasi dengan Meurunoe Art dalam sebuah sharing session bertema “Merajut yang Berakar Tradisi Melalui Regenerasi.”
Acara ini bukan sekadar temu seni, melainkan perjumpaan jiwa yang berkomitmen menjaga denyut budaya Aceh di tengah arus zaman yang kian deras.
Ketua Sanggar Cut Nyak Dien Meuligoe Gubernur Aceh, T Emi Syamsyumi (Abu Salam), menegaskan bahwa Sanggar CND hadir bukan hanya untuk melestarikan, tapi juga menjadi barometer seni tradisi di Aceh.
“Seperti cita-cita awal, sanggar ini adalah jembatan antara generasi. Kita menjaga kesenian tradisi, bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai napas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat Aceh hari ini,” ujar Abu Salam penuh keyakinan.
Dalam kesempatan itu, para pelatih Sanggar CND mempersembahkan tari-tari tradisi yang telah lama menjadi denyut nadi Aceh—Ranup Lampuan, Seudati, Saman, hingga Ratoh Jaroe.

Dentuman rapa’i, lantunan syair, dan gerakan serempak yang berpadu seakan menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar gerak, melainkan doa yang hidup.
Sementara itu, Pembina Sanggar Meurunoe Art, Arman Fulawan, menyampaikan harapannya agar kolaborasi ini menjadi ruang regenerasi.
Menurutnya, keberadaan Sanggar CND di Meuligoe Gubernur Aceh adalah kekuatan moral untuk terus menjaga budaya di bawah kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem).
“Kami ingin Sanggar Cut Nyak Dien terus menjadi wadah yang menghidupkan seni. Tradisi ini harus berjalan beriringan dengan pemerintahan, komunitas, dan generasi muda. Sebab, tanpa regenerasi, budaya akan kehilangan ruhnya,” ujar Arman.

Meurunoe Art pun menghadirkan kolaborasi tari kreasi, menunjukkan bahwa tradisi bisa berdialog dengan inovasi tanpa kehilangan akar.
Aceh hari ini berada di persimpangan jalan. Modernitas merangsek, budaya populer mendominasi, namun di pelosok gampong, tarian tradisi masih menjadi perekat silaturahmi, penguat identitas, dan bahasa doa.
Ranup Lampuan bukan sekadar tarian penyambutan; ia adalah simbol kehangatan Aceh dalam merajut persaudaraan.
Seudati bukan sekadar hentakan kaki, melainkan seruan dakwah dan keberanian.
Saman dan Ratoh Jaroe bukan hanya koreografi, tetapi tanda kebersamaan, ketaatan, dan disiplin yang mengakar dalam ruh masyarakat Aceh.
Kolaborasi dua sanggar ini adalah pesan kuat: tradisi Aceh bukanlah benda mati yang tersimpan di museum, melainkan sumber energi yang terus mengalir untuk generasi baru.
Acara ini ditutup dengan semangat kebersamaan. Para seniman, budayawan, hingga penonton merasakan getar yang sama: bahwa seni tradisi Aceh bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.

Dengan langkah tegap, Sanggar Cut Nyak Dien dan Meurunoe Art mengirim pesan: “Merajut yang berakar tradisi melalui regenerasi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban sejarah.”







