Drama 3-3 Dianulir di Menit Akhir: Pemuda Sultan Daulat Desak Evaluasi Wasit Dan Panitia

Sublussalam-Pertandingan semifinal Gerinda Cup 1 Sultan Daulat antara Jabar FC dan IPK2TB menjadi sorotan setelah terjadi kontroversi pada menit-menit akhir pertandingan. Sorotan tersebut disampaikan oleh Adit Natia, yang hadir dan menyaksikan langsung jalannya pertandingan dari lapangan.

Adit menilai pertandingan semifinal berlangsung dramatis. Jabar FC sempat unggul 3–0 setelah mencetak satu gol pada babak pertama dan dua gol pada awal babak kedua. Namun, IPK2TB mampu bangkit pada 15 menit terakhir dengan mencetak dua gol sehingga skor berubah menjadi 3–2.

Bacaan Lainnya

Drama kemudian terjadi pada penghujung pertandingan ketika IPK2TB kembali mencetak gol yang sempat membuat kedudukan menjadi 3–3. Namun, gol tersebut kemudian dianulir oleh wasit tengah karena dinilai terjadi pelanggaran.

Menanggapi kejadian tersebut, Adit Natia meminta agar keputusan pada momen krusial pertandingan menjadi bahan evaluasi.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa keputusan wasit pasti salah. Tetapi sebagai penonton yang hadir dan melihat langsung pertandingan, saya melihat ada situasi yang menurut saya perlu dievaluasi, terutama terkait komunikasi dan koordinasi antara wasit tengah dengan hakim garis,” ujar Adit.

Menurut Adit, dalam pertandingan yang berlangsung ketat, terlebih pada menit-menit akhir, setiap keputusan memiliki dampak besar terhadap jalannya pertandingan. Karena itu, komunikasi antarpengadil pertandingan dinilai sangat penting sebelum sebuah keputusan akhir ditetapkan.

“Kalau ada perbedaan pandangan antara wasit tengah dan hakim garis dalam situasi krusial, menurut saya sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu. Tujuannya bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi memastikan keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pengamatan yang jelas,” katanya.

Adit juga menegaskan bahwa pernyataannya bukan bentuk keberpihakan karena hasil pertandingan maupun kegagalan IPK2TB melaju ke final.Ini bukan persoalan menang atau kalah. Saya tetap menghormati hasil pertandingan dan semua pihak yang sudah bekerja keras menyelenggarakan turnamen. Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat sebagai penonton yang hadir langsung di lapangan, tegasnya.

Selain menyoroti perangkat pertandingan, Adit juga meminta panitia Gerinda Cup 1 Sultan Daulat menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Menurutnya, Gerinda Cup bukan sekadar kompetisi sepak bola, tetapi juga membawa nama daerah dan menjadi perhatian masyarakat. Oleh sebab itu, profesionalisme perangkat pertandingan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan kredibilitas turnamen.Saya berharap panitia ke depan bisa memastikan koordinasi perangkat pertandingan semakin baik. Gerinda Cup ini sudah menjadi perhatian masyarakat, sehingga kualitas penyelenggaraannya juga harus terus ditingkatkan,” ungkap Adit.

Ia menambahkan, kritik yang disampaikannya bukan bertujuan menjatuhkan nama baik panitia, wasit, maupun pihak tertentu.Kritik ini saya sampaikan karena saya peduli. Saya tidak ingin menjatuhkan siapa pun. Justru saya berharap Gerinda Cup semakin profesional, transparan, sportif, dan dipercaya oleh seluruh peserta maupun penonton, jelasnya.

Adit berharap kontroversi pada semifinal tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak agar pertandingan berikutnya dapat berjalan lebih baik dan meminimalkan potensi kesalahpahaman di lapangan.Sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah. Ada sportivitas, keadilan, profesionalisme, dan rasa saling menghargai yang juga harus dijaga,” pungkas Adit Natia.

 

Pos terkait