Banda Aceh – Di tengah dinamika sektor pertanian Aceh yang kompleks, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (BEM FP USK) mengambil langkah maju dengan menyelenggarakan diskusi kelompok terarah (FGD).
Acara ini berlangsung di Multi Purpose Room (MPR), Fakultas Pertanian USK, Banda Aceh, dan bertujuan untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam rangka membahas tantangan serta peluang bagi generasi milenial dalam sektor pertanian.
Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan besar masih membayangi, terutama ketika kebijakan dan pelaksanaan program terhambat oleh dinamika legislasi.
Isu Penting dalam Pertanian Milenial
FGD ini mengangkat isu-isu krusial terkait regenerasi petani, terutama di kalangan milenial. Muhammad Thoriq Akhyar, Ketua BEM FP USK, menyoroti fakta bahwa mayoritas petani Aceh saat ini berusia di atas 50 tahun, sementara hanya sekitar 0,02% petani muda berusia di bawah 19 tahun.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam regenerasi petani di Aceh.
Persepsi kaum milenial bahwa pertanian bukanlah pilihan investasi masa depan yang menarik, karena dianggap tidak memiliki kepastian dalam jangka panjang, menjadi salah satu tantangan utama.
Thoriq menekankan, “Kita harus mengubah pandangan bahwa pertanian adalah profesi yang stagnan. Justru, dengan teknologi dan inovasi, pertanian bisa menjadi sektor yang menjanjikan. Namun, untuk mencapai itu, perlu ada komitmen dari semua pihak, baik pemerintah, akademisi, maupun sektor swasta.”
Tanggapan Dinas dan Implementasi Program
Dalam FGD tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, melalui Kepala Bidang Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Perkebunan, Mukhlis SP, MA, menegaskan bahwa ada peluang besar untuk generasi milenial di sektor pertanian.
“Kami telah memulai beberapa inisiatif untuk menarik minat anak muda, seperti pengembangan nilam Aceh dan sistem informasi manajemen penyuluhan pertanian (Simluhtan). Sayangnya, kendala terbesar yang kami hadapi adalah minimnya partisipasi milenial yang sungguh-sungguh terlibat,” ujar Mukhlis.
Masduqi, S. Pt, M. Si, perwakilan dari Dinas Peternakan (Dispet) Aceh, memaparkan bahwa sektor peternakan juga memiliki potensi besar, namun minat dari generasi muda masih rendah.
“Kami memiliki plasma nutfah seperti sapi Aceh, kuda Gayo, dan kerbau Gayo. Namun, tanpa adanya regenerasi peternak, potensi ini akan sulit dimaksimalkan,” tegas Masduqi.
Peran Strategis Pemuda dan Pemangku Kebijakan
Dalam FGD ini, Kiki Surianti dari DPD Pemuda Tani HKTI menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam menarik minat milenial.
“Tanpa harus terjun langsung ke lahan, generasi muda bisa terlibat dalam rantai nilai pertanian melalui digitalisasi dan pengolahan pasca panen,” jelas Kiki.
Ia juga menyoroti bahwa stigma dari orang tua yang lebih menginginkan anaknya bekerja di sektor formal seperti PNS atau BUMN masih menjadi tantangan.
Muhammad Rufiandhy dari Muda Mugoe menambahkan bahwa krisis regenerasi petani di kalangan muda bukan hanya soal minat, tetapi juga soal jenjang karir yang tidak jelas dan ketidakpastian harga pasar.
“Anak muda butuh kepastian, baik dari segi pendapatan maupun prospek karir. Tanpa itu, akan sulit menarik mereka ke sektor pertanian,” kata Rufiandhy.
Tantangan dari Sisi Legislasi
Meskipun banyak ide dan program yang berpotensi mengembangkan pertanian Aceh, ada hambatan besar dari sisi legislatif.
Mukhlis dari Distanbun Aceh menyatakan bahwa proses birokrasi yang rumit sering kali memperlambat implementasi program-program inovatif.
“Setiap inisiatif yang kami coba jalankan sering kali tertahan karena berbagai regulasi yang tidak mendukung,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Masduqi dari Dispet Aceh menegaskan bahwa dukungan legislatif yang proaktif sangat dibutuhkan untuk memperlancar program-program pertanian dan peternakan.
“Kami menghadapi situasi di mana program yang bisa memberikan dampak positif pada kesejahteraan petani sering kali tidak mendapat dukungan penuh dari legislatif. Tanpa regulasi yang mendukung, sulit bagi kami untuk membuat perubahan yang berarti,” tegas Masduqi.
Membangun Sinergi untuk Masa Depan Pertanian Aceh
Diskusi yang diinisiasi oleh BEM FP USK ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan besar, baik dari sisi minat generasi muda maupun regulasi, peluang untuk memajukan sektor pertanian Aceh masih sangat terbuka.
Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, legislatif, akademisi, dan komunitas petani untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih modern dan menarik bagi generasi muda.
Membangun pertanian milenial bukanlah perkara mudah, namun bukan pula hal yang mustahil. Dengan adanya kesadaran kolektif dan upaya bersama, pertanian Aceh bisa bangkit dan menjadi sektor yang menjanjikan bagi masa depan generasi milenial.
Ini adalah tantangan sekaligus peluang yang harus dijawab dengan langkah nyata dan komitmen bersama.
Aceh memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan, tetapi untuk merealisasikannya, semua pihak harus bergerak bersama, melepaskan ego sektoral, dan fokus pada tujuan bersama: pertanian yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.







