Yokyakarta.Sipnews.id Komunitas Canter for Hikayat Studies (CHS) menggelar “Khatamul Hikayah” sebagai penutup meudrah Hikayat Prang Goumpeuni. Kegiatan meudrah adalah salah satu program dari komunitas CHS. Konsep meudrah yang diadopsi dari konsep pengajian di dayah tradisional untuk mengkaji Hikayat Prang Goumpeuni.
Meudrah adalah sebuah konsep belajar yang mana seorang guru menjelaskan kepada muridnya dan muridnya mendengar penjelasan dari guru. Meudrah yang diadopsi CHS dalam kegiatannya adalah seseorang membaca hikayat yang dalam naskah kuno, kemudian ditulis ulang (transliterasi) oleh orang yang lain dan yang lain menyimak bacaan dari pembaca, jika terjadi kesalahan diperbaiki bersama dan kemudian bacaan tadi dijelaskan oleh satu orang kepada para hadirin yang lain.
Penutupan Hikayat Prang Goumpeuni bukan akhir dari kegiatan meudrah, namun Khatamul Hikayah ini adalah bentuk rasa syukur setelah menyelesaikan sebuah hikayat. Program ini terus berlanjut ke depan dengan mengkaji hikayat Aceh yang lain.
direktur CHS Khalid Mis’al mentur kan “Alhamdulillah setelah berjalan setahun lebih, kita dapat menyelesaikan hikayat prang goumpeuni,
semoga ini menjadi awal dari penambah semangat dalam mengkaji sastra Aceh yang lain. Kegiatan ini akan terus berlanjut dengan hikayat-hikayat yang lain, banyak sekali hikayat Aceh yang belum kita kaji. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sastra dan budaya peninggalan indatunya”
Dalam kegiatan khatamul hikayah ini Muhammad Nusufi yang merupakan penggiat Hikayat Prang Goumpeuni menjelaskan sinopsis hikayat. Ia menjelaskan bahwa Hikayat Prang Goumpeuni merupakan sebuah hikayat yang berisi tentang cerita perang yang ditulis oleh Do Karim dari Ketapang Dua, Aceh Besar.
Hikayat ini berisi tentang perang gerilya Aceh yang terjadi di wilayah Aceh Rayeuk dan sekitarnya.
Semangat perang para masyarakat Aceh tidak dapat dikalahkan oleh musuh dan yang menariknya adalah ketika seorang panglima syahid, langsung muncul panglima yang baru sebagai pengganti. Ketika dianggap perlu untuk mendirikan sebuah benteng,
maka langsung didirikan tanpa banyak pertimbangan. Karena inilah musuh memberikan istilah ‘Aceh Moorden’ atau ‘Aceh Pungoe’
Dakam hikayat prang goumpeuni terdapat belasan tokoh protagonis seperti Panglima Tibang, Panglima Polem, Teuku Lueng Bata, Teuku Asan, dan lain-lain.
Selain itu juga terdapat tokoh beberapa antagonis seperti marsose, sirantee dan lain-lain.
Selain meudrah, CHS juga mempunyai kegiatan ‘Kotubah’ dalam peningkatan ilmu dan skill public speaking. Kotubah adalah kegiatan diskusi dari CHS yang ada seorang pemateri menjelaskan materi kepada audiens, dan para audiens dapat bertanya atau menambahkan pendapat dalam kegiatan tersebut.
Materi Kotubah adalah materi tentang sastra dan budaya Aceh seperti, narit meupakhok, hadih maja, seumapa, rateb, perbandingan hikayat-hikayat, dan lain sebagainya.
Perlu diketahui bahwa CHS adalah sebuah komunitas yang mengkaji tentang sastra dan budaya Aceh yang lahir di Yogyakarta.
Komunitas ini diinisiasi oleh seorang mahasiswa doktoral yang sedang menyusun disertasi pada saat itu dan dengan semangat belajar sastra dan budaya Aceh oleh mahasiswa Aceh yang lain, terbentuklah Center for Hikayat Studies.
Komunitas Canter for Hikayat Studies berdiri dan berpusat di asrama Keluarga Aceh Besar Yogyakarta (KABY). Kegiatan meudrah dan kajian lainnya diadakan di asrama KABY, kecuali Kotubah yang dilaksakan di cafe-cafe. Kegiatan meudrah sempat lama terhenti pada akhir 2024 dikarenakan habisnya masa sewa asrama dan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah Aceh Besar pada saat itu.
Pasca habis masa sewa asrama KABY, kegiatan meudrah Hikayat Prang Goumpeuni sempat diadakan dengan ‘numpang’ tempat di asrama Aceh dan kontrakan mahasiswa Aceh di Yogyakarta.
Ketua KABY yang juga salah satu pendiri CHS Naimul Faza berharap kepada pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang sekarang untuk memberi perhatian kepada para pelajar dan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan,
terutama yang di perantauan untuk diberikan kemudahan tempat tinggal dan pusat berkumpul yaitu asrama.
“Komunitas hikayat adalah sebuah komunitas yang mengkaji sastra dan budaya Aceh, diinisiasi oleh mahasiswa KABY dan berpusat di asrama KABY. Dengan tidak ada lagi asrama KABY, maka hilanglah juga tempat kegiatan meudrah sehingga harus numpang ke tempat yang lain.
Saya berharap kepada pemerintah Aceh Besar yang sekarang untuk memberi fasilitas asrama kepada mahasiswa Aceh Besar di Yogyakarta sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada pejuang SDM Aceh Besar karena asrama KABY tidak hanya tempat tinggal, tapi juga sebagai tempat kumpul di perantauan, pusat diskusi, tempat belajar hingga menjadi pusat kajian sastra dan budaya Aceh.” Ujar Faza
Kami ucapkan terimakasih atas perhatiannya
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh







