Humaira
Spnews.id Sabang Mie ayah Pangsit Cilacap di Sabang adalah hidden gem legendaris di Pulau Weh. Kedai sederhana ini menyajikan perpaduan tekstur mi kenyal, kuah kaldu kaya rempah, dan topping ayam melimpah. Selalu padat pembeli sejak sore, seporsi kuliner ini dibanderol mulai dari Rp15.000 saja
Sore hari di Kota Sabang selalu memiliki ritme tersendiri. Di saat matahari mulai condong ke ufuk barat dan angin laut berhembus perlahan, nampak antrean panjang mulai mengular di sebuah kedai sederhana yang dikenal dengan nama Mie Ayam Cilacap. Meski mengusung nama daerah dari Jawa Tengah, kedai ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Pulau Weh, menjadi magnet bagi siapa saja yang merindukan kehangatan sepiring mie di tengah suasana senja yang syahdu.
Mie Ayam Cilacap.
Fenomena antrean ini bukanlah tanpa alasan. Mie Ayam Cilacap menawarkan perpaduan tekstur mie yang kenyal dengan kuah bening yang kaya akan rempah. Taburan ayam berbumbu manis-gurih yang melimpah, ditambah dengan kerupuk pangsitnya menjadi sangat sempurna, menciptakan harmoni rasa yang konsisten selama bertahun-tahun.
Terletak di lokasi yang strategis, tepatnya di Jalan Malahayati, Gampong Kebun Meurica Kecamatan Sukakarya. Kedai ini melayani ratusan porsi setiap harinya, mulai dari warga lokal yang baru pulang bekerja hingga wisatawan yang sedang mengeksplorasi sudut-sudut kota. Keberadaannya membuktikan bahwa kuliner pendatang pun bisa memiliki akar yang kuat jika mampu menjaga kualitas rasa.
-
- Varian Topping Lengkap: Selain pangsit, tersedia juga tambahan jeroan, ceker, kepala, dan kerupuk pangsit.
- Harga Terjangkau: Porsinya sangat mengenyangkan, dan bahkan bisa dipesan porsi “pancung” (setengah).
- Jam Operasional: Buka setiap hari Selasa hingga Minggu pukul 15.00 hingga 22.00 WIB (Senin tutup). Disarankan datang lebih awal sebelum sore agar tidak kehabisan.
Di balik kedai satu pintu dengan tempat yang tak seberapa besar ini membuat semua pengunjung untuk cepat-cepat dalam mengambil tempat untuk menikmati hidangan di tempat, tak hanya itu antrean untuk dinikmati dirumah pun tak kalah meriahnya. Mereka adalah penjaga gawang dari resep rahasia yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tantangan terbesar dalam mempertahankan bisnis legendaris di era modern bukan hanya soal persaingan, melainkan soal rasa.
Dukungan terhadap keberadaan kuliner legendaris ini juga datang dari para penggerak pariwisata di Sabang. Sebagai kota destinasi internasional, keberagaman kuliner menjadi nilai tambah yang membuat wisatawan merasa “betah” dan memiliki banyak pilihan selain hidangan laut.
“Mie Ayam Cilacap ini sudah menjadi salah satu ikon kuliner sore di Sabang. Sebagai Duta Wisata, kami sering merekomendasikan tempat ini karena selain rasanya yang legendaris, suasananya sangat merepresentasikan keramahan kota kami. Ini adalah bukti bahwa Sabang adalah titik temu berbagai budaya, di mana kuliner dari luar bisa diterima dan justru menjadi bagian dari identitas lokal. Kehadiran tempat-tempat seperti ini sangat membantu kami dalam mempromosikan wisata kuliner yang variatif kepada setiap pengunjung yang datang ke Pulau Weh,” jelas Cut Adek Humaira, Duta Wisata Sabang.
Eksistensi Mie Ayam Cilacap di Kota Sabang menjadi pengingat bahwa dedikasi terhadap rasa tidak akan pernah dikhianati oleh waktu. Meski zaman terus berganti dan tren kuliner baru bermunculan, antrean yang tak pernah putus di kala sore menjadi bukti nyata bahwa sepiring mie hangat yang dibuat dengan sepenuh hati akan selalu memiliki tempat istimewa di hati para pecintanya.( ADV)
