Kamariah dan Empat Cucu Yatim di Teupin Gajah: Mengais Harap dalam Sunyi

Ibu Kamariah bersama cucunya. Foto: Sipnews.id

SIPNEWS.ID, Aceh Utara — Di balik rimbunnya pohon-pohon tua dan lengang jalan tanah di Desa Teupin Gajah, Kecamatan Jambo Aye, berdiri sebuah rumah kayu yang renta, hampir serenta penghuninya: Kamariah, seorang ibu paruh baya yang memanggul hari demi hari dengan kesabaran yang nyaris tak masuk akal.

Di rumah itu, ia tak tinggal sendiri. Empat cucunya yang masih kecil, semuanya yatim, menjadi teman sekaligus tanggungannya dalam senyap kemiskinan yang membalut kehidupan mereka. Minggu (06/06/2025).

Bacaan Lainnya

Kamariah bukan hanya seorang nenek. Ia adalah ibu kedua, pemikul beban, dan penjaga mimpi-mimpi kecil cucu-cucunya yang kehilangan ayah terlalu cepat, dan ibunya yang kini terombang-ambing nasib di negeri orang.

“Sri Ramayanti, anak saya satu-satunya, sudah dua tahun ini di Malaysia. Kerjanya tak menentu, kadang dapat, kadang tidak,” kata Kamariah pelan.

Suaranya serak, seperti suara rumah kayunya yang berderak diterpa angin. “Anak-anaknya saya urus di sini. Tapi jujur, saya sudah tua. Kadang bingung besok makan apa.”

Empat cucunya—Safa Salsabila (lahir 17 Januari 2010), Eka Moulini (15 Februari 2012), Moulizatul Aina (28 Desember 2015), dan si bungsu Aulia Putri (18 April 2020)—menjadi saksi bisu bagaimana hidup yang mereka jalani bukan seperti anak-anak pada umumnya.

Tidak ada mainan, tidak ada camilan sore, tidak ada baju baru saat lebaran. Bahkan untuk makan sehari-hari, mereka sering bergantung pada belas kasih tetangga atau kiriman seadanya dari ibunya di Malaysia.

“Kakak paling besar, Safa, sudah pandai membantu. Kadang cuci piring, bantu nenek masak. Tapi kan anak-anak, seharusnya sekolah dengan tenang, bukan mikir soal dapur,” tutur salah seorang tetangga yang sering membantu Kamariah.

Rumah mereka sendiri jauh dari kata layak. Atapnya bocor di beberapa sudut, lantainya lapuk, dan dindingnya mengelupas ditelan usia. Di ruang tengah, hanya ada satu tikar lusuh tempat anak-anak berkumpul.

Di sana mereka belajar, bermain, tidur, dan menumpahkan tawa kecil yang terdengar seperti perlawanan sunyi terhadap keadaan.

Kamariah mengaku belum pernah mendapat bantuan rutin dari pemerintah.

“Kadang ada yang datang, tanya-tanya, tapi habis itu ya begitu saja. Saya tidak minta banyak, asal anak-anak ini bisa makan cukup dan sekolah terus, itu sudah cukup bagi saya,” ucapnya lirih.

Di usia senja, Kamariah seharusnya duduk tenang di beranda, menyesap kopi, dan melihat cucunya tumbuh dengan gembira.

Namun kenyataannya, ia harus terus berjibaku dengan hidup yang tidak bersahabat, merawat anak-anak yang bukan hanya kehilangan orang tua secara fisik, tapi juga hak-haknya sebagai warga yang seharusnya mendapat perlindungan.

Cerita Kamariah bukan cerita tunggal di pelosok Aceh. Ia adalah potret getir dari wajah kemiskinan yang tak jarang luput dari perhatian.

Ia menyimpan harapan sederhana, yang mestinya menjadi tanggung jawab bersama: perhatian, uluran tangan, dan keberpihakan dari negara.

“Kalau saya tidak ada, siapa lagi yang urus mereka?” tanya Kamariah, dengan pandangan kosong ke arah langit-langit rumah yang mulai lapuk. Di matanya, tersimpan luka.

Tapi di dalam hatinya, tetap ada ruang kecil untuk berharap. Bahwa mungkin, satu hari nanti, angin baik akan singgah ke rumah tuanya.

Pos terkait