Sering kali manusia merasa besar karena jabatan, harta, pengaruh, atau pujian yang mengelilinginya. Ia berjalan seakan dunia berada di bawah telapak kakinya. Namun Rumi mengingatkan: rumput yang hari ini terinjak, esok bisa tumbuh di atas makam kita. Sebuah gambaran sederhana, tetapi mengguncang bahwa hidup ini singkat, dan apa pun yang kita banggakan akan berakhir pada tanah yang sama.
Rumput melambangkan kesederhanaan dan siklus alam. Ia tumbuh tanpa suara, tanpa ambisi, tanpa kesombongan. Ketika manusia kembali ke tanah, rumput tetap tumbuh—seakan menegaskan bahwa kehidupan terus berjalan tanpa memedulikan siapa yang dulu merasa paling berkuasa. Dari sini kita diajak menyadari betapa rapuhnya keagungan duniawi.
Pesan ini bukan untuk merendahkan martabat manusia, melainkan untuk menundukkan ego. Kesadaran akan kematian justru melahirkan kebijaksanaan: membuat kita lebih rendah hati, lebih lembut pada sesama, dan lebih bijak dalam memandang pencapaian. Jika semua akan kembali menjadi tanah, maka yang tersisa hanyalah amal, kebaikan, dan jejak makna.
Pada akhirnya, kebesaran sejati bukan pada seberapa tinggi kita berdiri hari ini, tetapi pada seberapa dalam kerendahan hati kita sebelum kembali ke bumi. Wallahu ‘Alam







