Dari sejarah perjuangan hingga strategi pertanian masa depan, Serikat Tani Islam Indonesia tegaskan dukungan terhadap Asta Cita Prabowo di sektor pangan
SIPNEWS.ID, JAKARTA — Ruang Rapat Pulau Naira di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, menjadi saksi percakapan serius tentang masa depan petani Indonesia.
Pada Rabu, 7 Agustus 2025, Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) melakukan audiensi strategis dengan Kantor Staf Presiden (KSP) yang diwakili oleh Tenaga Ahli Utama Deputi II, Dr. Sukriansyah S. Latief, SH, MH.
Pertemuan yang sedianya akan dihadiri oleh Plt. Deputi II KSP Bidang Perekonomian dan Pangan, Edy Priyono, ini menjadi ruang bagi PB STII untuk memaparkan sejarah, visi, dan program-program unggulan mereka dalam membangun ketahanan pangan nasional.

Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, membuka forum dengan narasi sejarah yang kuat.
Ia menyampaikan bahwa STII berdiri sejak 26 Oktober 1946 di Yogyakarta, dipimpin oleh Mohammad Dalijo, dilanjutkan oleh Mohammad Sarjan (Menteri Pertanian RI dua periode), dan Mayor KH Sholeh Iskandar, tokoh Hizbullah sekaligus pendiri LVRI.
“KH Sholeh Iskandar adalah tokoh penting dalam perjuangan bangsa. Karena itu kami usulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. STII tidak hanya soal pertanian, tapi juga bagian dari sejarah kebangsaan,” ujar Fathurrahman tegas.
Lebih dari sekadar mengenang sejarah, STII kini hadir sebagai mitra aktif dalam membangun sistem pertanian modern dan inklusif.
Dalam pemaparannya, Fathurrahman menjelaskan berbagai program unggulan, antara lain:
• Reforma Agraria sebagai mitra strategis Kementerian ATR/BPN RI berdasarkan SK Menteri ATR 2025.
• Teknologi Pertanian Cerdas, termasuk urban farming di perkotaan.
• Pengembangan produk unggulan UMKM yang berbasis pertanian rakyat.
• Program perikanan dan peternakan berkelanjutan.
• Ekspansi pasar melalui MoU dengan Kementerian Pertanian Malaysia untuk ekspor Benih Trisakti Tani.
• Pembentukan BUMS (Badan Usaha Milik STII) sebagai penggerak ekonomi mandiri petani.
Sorotan menarik datang dari Ketua PW STII Jawa Tengah, Saparudin, seorang petani kopi yang telah mengekspor produknya ke Rusia dan negara-negara Eropa.
“Kami para petani sering menjadi objek dari sistem investasi yang timpang. Investor mengejar untung, sementara petani menanggung risiko. STII hadir untuk memperjuangkan keadilan itu,” ungkap Saparudin.
Ia menyarankan penerapan skema sistem resi gudang sebagai solusi konkret. Skema ini memungkinkan petani menyimpan hasil panen di gudang dengan jaminan mutu dan harga, serta akses ke pembiayaan dengan agunan hasil panen.
“Resi gudang adalah solusi realistis. Tak merugikan siapa pun, justru memberikan stabilitas dan daya tawar bagi petani. Kami harap pemerintah menjadikan ini prioritas nasional,” tegasnya.
Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. Sukriansyah Latief, yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Wapres KH Ma’ruf Amin dan Staf Khusus Menteri Pertanian Amran Sulaiman, menyambut baik gagasan-gagasan STII.
“Apa yang disampaikan STII sangat sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo, khususnya terkait ketahanan pangan. Kami di KSP siap menjadi katalisator percepatan sinergi lintas sektor,” ujarnya.
Sukriansyah menyebut bahwa Kedeputian II KSP akan mendukung penguatan kelembagaan STII, termasuk koperasi, BUMS, serta mendorong koordinasi antara STII dan kementerian/lembaga lainnya untuk menyukseskan program pertanian nasional.
Wakil Ketua Umum PB STII, Hilman Ismail Metareum, dalam kesempatan itu turut memaparkan tentang Koperasi Merah Putih STII sebagai instrumen ekonomi rakyat berbasis solidaritas.
Koperasi ini menjadi tulang punggung dalam distribusi hasil pertanian dan pembiayaan bagi anggota.
“Kami percaya bahwa ekonomi umat harus dibangun dari akar, bukan hanya dari atas. Dan koperasi adalah jembatan keadilan ekonomi bagi petani.”
Pertemuan antara PB STII dan KSP bukan sekadar diskusi teknokratis. Ia adalah pertemuan antara sejarah dan harapan, antara suara petani dan ruang-ruang kekuasaan.
Di tengah tantangan ketimpangan akses lahan, dominasi pasar oleh modal besar, serta ancaman krisis pangan global, STII tampil dengan solusi berbasis pengalaman lapangan dan nilai perjuangan.
Dengan semangat reforma agraria, kemandirian ekonomi, dan pengakuan terhadap peran petani sebagai pilar bangsa, STII menyodorkan bukan hanya program, tetapi sikap dan arah masa depan.
Negara, melalui Kantor Staf Presiden, membuka telinga dan tangan. Kini, tinggal bagaimana semua pihak berani mengambil langkah nyata.






