KOTA JANTHO – Ketua Umum Bentara Muda Aceh, Rozi Ananda, mendesak Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris, untuk segera menerbitkan Surat Edaran (SE) terkait pengendalian harga bahan pokok.
Desakan ini muncul di tengah situasi darurat bencana banjir yang melumpuhkan sebagian besar wilayah Aceh, termasuk Aceh Besar, pada Ahad, 30 November 2025.
Rozi Ananda menilai, kondisi psikologis masyarakat yang sedang tertekan akibat bencana rentan dimanfaatkan oleh spekulan untuk memainkan harga pasar.
“Kami meminta Saudara Bupati Muharram Idris segera mengeluarkan SE Larangan Menaikkan Harga Bahan Pokok secara tidak wajar. Jangan ada pihak yang menari di atas penderitaan rakyat yang sedang ditimpa musibah,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Kota Jantho, Ahad.
Menurut dia, kelangkaan pasokan akibat terputusnya jalur distribusi logistik di beberapa titik rendaman banjir berpotensi memicu lonjakan harga sembako dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Tanpa intervensi regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, inflasi lokal dikhawatirkan tak terkendali.
”Pemerintah tidak boleh sekadar mengimbau lisan. Harus ada hitam di atas putih yang menjadi dasar hukum bagi aparat di lapangan untuk menindak,” kata Rozi.
Selain mendesak penerbitan SE, Bentara Muda Aceh juga meminta Aparat Penegak Hukum (APH)—baik dari Kepolisian Resor Aceh Besar maupun Kejaksaan—untuk turun gunung. Mereka diminta melakukan pemantauan ketat terhadap potensi penimbunan barang.
”Kami minta APH memantau gudang-gudang distributor. Jika ditemukan penimbunan sembako atau BBM yang memanfaatkan situasi bencana ini, tindak tegas tanpa kompromi,” tuturnya.
Permintaan Bentara Muda Aceh ini beralasan. Situasi Aceh hari ini, 30 November 2025, berada dalam status darurat. Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang sejak pekan lalu telah mengakibatkan dampak masif di 17 kabupaten/kota.
Data terbaru menyebutkan korban jiwa di seluruh Aceh telah mencapai 96 orang, dengan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Di Aceh Besar sendiri, ribuan warga terpaksa mengungsi karena debit air yang belum surut signifikan. Infrastruktur vital, termasuk jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh–Medan, sempat lumpuh total, menghambat pasokan logistik dari Sumatera Utara.
Bupati Muharram Idris sendiri dalam beberapa hari terakhir terpantau fokus pada evakuasi dan penyaluran bantuan masa panik. Namun, Bentara Muda Aceh mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi warga pasca-bencana sama krusialnya dengan penyelamatan fisik.
”Bupati harus bergerak cepat. Jangan sampai warga yang selamat dari banjir justru ‘mati’ perlahan karena tidak sanggup membeli beras dan minyak,” pungkas Rozi.






