SIPNEWS.ID, Banda Aceh – Langkah diplomasi Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem kembali menarik perhatian publik nasional dan internasional.
Dalam upaya memperkuat relasi historis dan membuka jalur kerja sama strategis antarwilayah, Mualem mengutus Tim Khusus Relasi Internasional dan Bisnis untuk bertemu dengan Duta Besar Turkiye untuk Indonesia, Prof. Dr. Talip Küçükcan, di Jakarta.
Delegasi Aceh yang dipimpin oleh Iskandarsyah Bakri, H.M. Fauzan Kamil, Lc, MA, Dr. Suraiya IT, dan Yani Marjani, AY, SE, membawa misi besar: menyusun kerangka kerja sama yang mampu mendorong kemajuan Aceh di berbagai sektor melalui pendekatan diplomasi budaya dan ekonomi.
Hasil pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan melahirkan sejumlah kesepakatan konkret yang berpotensi mengubah lanskap hubungan Aceh-Turkiye dalam lima tahun ke depan.
Dalam salah satu poin utama, Pemerintah Turkiye menyatakan komitmennya untuk mendirikan “Turkiye Education and Cultural Center” di Banda Aceh.
Fasilitas ini akan menjadi etalase budaya Turkiye sekaligus ruang interaksi kebudayaan antarbangsa—dengan pelatihan bahasa Turki, seminar kebudayaan, hingga festival seni yang mempererat kembali simpul sejarah antara Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah.
Bagi sektor kesehatan, Turkiye menawarkan pelatihan profesional gratis untuk dokter dan perawat asal Aceh di rumah sakit-hospital unggulan mereka.
Menariknya, seluruh biaya pelatihan, akomodasi, dan kebutuhan penunjang ditanggung oleh Pemerintah Turkiye—sementara Pemerintah Aceh hanya membiayai transportasi.
Langkah ini disebut sebagai terobosan diplomasi medis yang akan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan Aceh dengan teknologi dan pelayanan kesehatan modern.
Sebagai bagian dari agenda pembangunan SDM, Aceh dan Turkiye sepakat meluncurkan program beasiswa bersama.
Mahasiswa Aceh akan mendapat akses ke universitas ternama seperti Istanbul University dan Ankara University.
Di sisi lain, pelajar Turkiye akan diberi kesempatan belajar di Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, dalam skema pertukaran pelajar yang memperkaya pengalaman lintas budaya.
Untuk memfasilitasi ekspor produk unggulan Aceh, seperti kopi Gayo, nilam, cengkeh, kayu manis, produk turunan kelapa, hingga hasil laut, Pemerintah Aceh akan membuka Aceh Trade Center di Istanbul.
Fasilitas ini akan menjadi pusat promosi dan distribusi produk Aceh di pasar Turki dan kawasan Timur Tengah, sekaligus sebagai pintu masuk investasi sektor riil ke Aceh.
Turkiye juga menawarkan program pelatihan intensif bagi wirausaha muda Aceh di sektor startup, e-commerce, hingga ekspor digital.
Dalam program ini, peserta akan mendapatkan mentoring dari pelaku usaha sukses di Turkiye, dengan harapan bisa membawa semangat inovasi dan jaringan internasional ke ranah UMKM lokal Aceh.
“Alhamdulillah, pertemuan ini membawa hasil yang sangat positif dan membanggakan. Gubernur Aceh, Mualem, berkomitmen memperkuat hubungan Aceh-Turkiye bukan hanya soal sejarah, tapi juga masa depan,” ujar Fauzan Kamil, Ketua DPD HKTI Aceh yang menjadi bagian dari delegasi tersebut.
Sementara itu, Dubes Talip Küçükcan menyambut antusias kemitraan ini, “Aceh memiliki tempat istimewa dalam sejarah bangsa kami. Kami ingin membangun kerja sama yang nyata, saling menguntungkan, dan berjangka panjang.”
Tahap implementasi kerja sama akan dimulai pada September 2025, di mana delegasi Pemerintah Aceh akan berkunjung ke Ankara dan Istanbul untuk bertemu dengan Ketua Parlemen Turkiye, Turkish Chambers of Commerce, dan Kementerian Terkait.
Di akhir tahun 2025, delegasi Turkiye dijadwalkan akan berkunjung ke Banda Aceh untuk menindaklanjuti pembangunan pusat budaya dan agenda pendidikan.
Puncaknya, kedua pihak tengah mempersiapkan Festival Budaya Bersama untuk memperingati 500 tahun hubungan Aceh-Turkiye pada tahun 2029 mendatang—sebuah momen sejarah yang akan menjadi panggung global bagi Aceh.
Dengan semangat “Partnership for the People, for the New World”, kerja sama ini bukan hanya tentang diplomasi antarbangsa, tetapi juga tentang membuka ruang baru bagi pendidikan berkualitas, ketahanan budaya, dan pertumbuhan ekonomi rakyat Aceh.
Langkah Mualem melalui tim khusus ini dinilai sebagai bagian dari diplomasi progresif yang mampu menjawab tantangan geopolitik dan kebutuhan pembangunan lokal dengan cara cerdas, strategis, dan penuh kehormatan historis.
“Ini bukan sekadar nostalgia sejarah, ini adalah pembangunan masa depan dengan mitra global yang tepat,” pungkas Dr. Suraiya IT.







