Kasus Gagal Ginjal Akut di Aceh Bertambah jadi 29 Kasus, 22 Orang Meninggal Dunia
Banda Aceh, SIPNEWS.ID – Kasus meninggal dunia pada anak mengidap gagal ginjal akut bertambah di Aceh, per 23 Oktober 2022, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Aceh mencatat sudah 22 kasus gagal diselamatkan.
“Sudah ada 29 kasus di Aceh yang sudah diverifikasi dan 22 kasus meninggal dunia,” kata Ketua IDAI Aceh, Syafrudin, Minggu 23 Oktober 2022.
Sebelumnya, kata Syafrudin, saat ini pihak Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) memiliki dua pasien yang mengidap penyakit gagal ginjal akut yang dirujuk dari daerah. “Satu pasien kondisinya sudah membaik dan satu pasien lainnya masih dalam perawatan,” katanya.
Ia mengungkapkan pasien tersebut datang dengan kondisi yang paling berat dan sudah dirawat selama 14 hari, dengan gejala sesak napas bahkan sempat berhenti bernapas. Sehingga pihak rumah sakit mengambil tindakan untuk memasang pentilator dan rujukan ke IGD.
“Kasus yang pertama meninggal di Zainoel Abidin kondisinya memang berat rujukan dari RS Datu Beru, Aceh Tengah,” ungkap Syafrudin.
Biasanya, kata dia, hal seperti ini terjadi karena keterlambatan rujukan dan kurangnya pengetahuan orang tua terhadap kondisi anak. Seharusnya, kalau dalam satu hari orang tuannya tau anak tersebut macet kencing maka langsung diilakukan rujukan, namun banyak orang tua yang tidak tau karena sang anak tidak ada keluhan.
“Jadi orang tua harus waspada bahwa ini berbahaya untuk anaknya dan berusaha tidak memberikan obat sirup kepada anak-anak,” tegasnya.
Syafrudin juga mengungkapakan apabila terdapat dari rumah sakit daerah kasus gagal ginjal akut, maka langsung melakukan koordinasi dengan pihaknya agar tidak terjadi panolakam saat sampai di IGD atau dirujuk ke rumah sakit lain, sebab untuk kasus hemolisis terhadap anak hanya ada di RSUDZA.
Di Aceh, rumah sakit lain juga ada hemolisis seperti di Lhokseumawe dan Sigli, namun untuk dialisis anak susah dilakukan karena harus mengikuti pelatihan. Lanjutnya, sebab hemogdialisis pada anak melakukan akses paskuler dan hemogdealisis pada anak harus melalui pengambilan darah yang dibersihkan lagi.
“Masalah ini yang paling sulit, apalagi pada anak usia di bawah dua tahun. Pada kasus selama ini tidak pernah kita hemogdalisis di bawah dua tahun, jarang sekali,” jelasnya.
Sementara untuk wilayah Banda Aceh, hemogdalisis ini juga bisa dilakukan di Rumah Sakit Pertamedika, RS Meuraxa, tapi untuk anak masih ada kendala selain melakukan akses paskulernya dan cara pemberian hemogdalisisnya.
Selain itu, kata Syafrudin, pihak rumah sakit sempat menduga gejala yang dialami anak-anak gagal ginjal akut adalah Covid-19 karena anak di bawah enam tahun tidak divaksinasi apalagi cakupan imunisasi di Aceh sangat rendah dugaan sementaranya begitu.
“Karena beratnya penyakit itu karena berhubungan dengan organ lain, yaitu hati, susunan saraf pusat, pastakulernya, makanya kita menduga itu,” sebutnya.
Di sisi lain, saat ini pihaknya juga terus melakukan upaya pengobatan kepada anak yang mengidap gagal ginjal akut. Syafrudin berharap RSUDZA bisa memperoleh obat yang dipesan langsung dari Singapura untuk mengatasi permasalahan ini. “Kita berharap obat itu juga sampai ke Aceh,” tutupnya.(Sumber : Kba.one)






