BANDA ACEH,Sipnews.id – Dunia politik Aceh kian berwarna dengan kisah-kisah mistis yang menyelubungi setiap keputusan pemilu. Salah satu tokoh yang mengungkapkan pandangan menarik adalah Sulaiman Banta Syah, Ketua Relawan TWD (Taufik Wo U Dayah) for Mualem Gubernur Aceh.
Dalam sebuah pernyataan yang mengundang perhatian, Sulaiman mengaitkan fenomena mitos dengan dinamika politik lokal, menyoroti “nasib sial” yang kerap menimpa kandidat yang didukung oleh sosok yang dianggap sebagai “Amien Rais” Aceh, Tgk Bulqaini Tanjongan.
Sulaiman menjelaskan bahwa masyarakat timur Indonesia memiliki beragam mitos yang mengatur kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kupu-kupu yang masuk rumah menandakan akan datangnya tamu, atau menabrak kucing dianggap pertanda kesialan.
Dengan nada humoris, ia menarik paralel antara mitos-mitos ini dengan realitas politik, khususnya dukungan Tgk Bulqaini.
Menurut Sulaiman, ada mitos politik yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.
Salah satunya adalah anggapan bahwa siapa pun yang didukung oleh Amien Rais, akan kalah dalam pemilihan umum.
Hal ini berdasarkan kelakar almarhum Gus Dur yang dikenal dengan ramalannya tentang hasil pemilihan.
Terbukti, dalam beberapa pemilihan presiden, baik Amien Rais sendiri maupun kandidat yang didukungnya, sering kali berakhir dengan kekalahan.
Menariknya, di tingkat lokal Aceh, Tgk Bulqaini memiliki nasib serupa. Pada pilkada 2007, 2012, dan 2017, kandidat yang didukungnya—termasuk Mualem-TA Khaled—selalu kalah.
Sulaiman bertanya-tanya apakah ini sebuah kebetulan ataukah memang sebuah kesialan yang melekat.
Ia pun menanti dengan penuh rasa ingin tahu apakah Bustami dan Tu Sop, yang kini didukung oleh Tgk Bulqaini dalam pilkada 2024, akan mengalami nasib serupa.
“Kalau pilihan Tu Bulqaini kali ini menang, mungkin kita bisa bilang itu hanya kebetulan. Tapi kalau sebaliknya, mungkin saatnya kita mempertanyakan kembali mitos ini,” ujar Sulaiman dengan nada jenaka.
Dengan hasil akhir yang belum diketahui, masyarakat Aceh dan para pengamat politik menunggu dengan antusias apakah mitos tersebut akan terbukti atau hanya menjadi bagian dari folklore politik lokal.







