Workshop Renstra Investasi Aceh Tahun 2023-2026 Resmi Dibuka
BANDA ACEH, SIPNEWS.ID – Pj. Gubernur Aceh, Achmad Marzuki yang diwakili Staf Ahli Gubernur Acefh Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Sekda Aceh, Drs. Bukhari, MM membuka secara resmi Workshop Rencana Strategis (Renstra) Investasi Aceh Tahun 2023-2026, yang digelar oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh bertema “Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Aceh melalui Semangat Green Investment” di Hermes Palace Hotel, Rabu (28/12/2022).
“Workshop Rencana Strategis Investasi Aceh Tahun 2023-2026 ini ditujukan untuk mempertajam kembali sasaran dan rencana strategis melalui partisipasi para pihak, baik SKPA terkait, maupun pengusaha dan lembaga masyarakat sipil lainnya terhadap rumusan draft Renstra yang telah dirancang untuk fokus pada aspek kelengkapan infrastruktur, kemudahan regulasi, ketenagakerjaan, kecukupan bahan baku, serta kesiapan lahan yang clear dan clean. Akhir periode Rencana Pembangunan Aceh (RPA) dan Renstra Investasi Aceh Tahun 2026, angka pertumbuhan ekonomi Aceh diharapkan mencapai 4,25% dan realisasi investasi Aceh sebesar 12,86 triliun rupiah, “ ungkap Bukhari.
Realisasi investasi Aceh selama beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi yang juga berdampak pada pencapaian pembangunan. Beberapa permasalahan menjadi penghambat laju investasi, seperti tumpang tindih kewenangan perizinan antara pemerintah pusat dan daerah, status lahan yang belum clear and clean, regulasi yang belum pro investasi, penyebaran investasi masih rendah pada sektor hilirisasi dan dampak masif akibat pandemi Covid-19.
Namun, kinerja investasi Aceh selama beberapa tahun terakhir mengalami perbaikan, melebihi target yang telah ditetapkan pada RPJM Aceh Tahun 2017-2022. Tahun 2021 realisasi investasi Aceh berhasil mencapai 10,9 triliun rupiah. Capaian tersebut sebesar 163,90 persen melebihi dari target yang ditetapkan dalam RPJM Aceh 2017-2022, yaitu sebesar 6,65 triliun rupiah. Sementara, secara nasional pencapaian target realisasi investasi Aceh mencapai 201,84 persen dari target yang diberikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sebesar 5,4 triliun rupiah.
Capaian realisasi tersebut meningkat dibandingkan Tahun 2020 sebanyak 9,11 triliun rupiah dari target yang ditetapkan sebesar 6,05 triliun rupiah. Target realisasi investasi Tahun 2022 sebesar 7,3 triliun rupiah, dan diperkirakan akan tercapai, mengingat realisasi pada TW I s.d III Tahun 2022 telah mencapai 5,421 triliun rupiah atau 74,27 persen. Capaian ini menjadi salah satu indikator bahwa iklim investasi di Aceh semakin membaik melalui pelibatan semua pihak, “ tambah Marzuki.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Marthunis, ST, D.E.A menyebutkan, investasi adalah salah satu faktor penting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Diperlukan dokumen perencanaan investasi yang komprehensif, inovatif dan inklusif. DPMPTSP Aceh telah menyusun draft dokumen Rencana Strategis Investasi Aceh Tahun 2023-2026” sebagai turunan RPA Tahun 2023-2026.
“Draf Dokumen Renstra tersebut telah melalui tahapan pembahasan melalui FGD dan review akademis, bertujuan sebagai pedoman dalam mengatasi berbagai permasalahan yang menghambat kemajuan investasi Aceh untuk empat tahun mendatang (2023-2026) dengan memberdayakan seluruh sumber daya dan pelibatan para pihak melalui semangat “Green Investment” atau “Investasi Hijau”. Kebijakan ini selaras dengan misi Pemerintah Aceh melalui Program Aceh Green, yaitu pembangunan Aceh berwawasan lingkungan dan berkelanjutan yang sensitif terhadap risiko bencana dan adaptif terhadap perubahan iklim, “ sebut Marthunis yang dipercayakan saat ini sebagai Pj. Bupati Aceh Singkil.
PLH. Kepala DPMPTSP Aceh, Marzuki, SH juga menyebutkan, ada beberapa isu strategis investasi Aceh yang diharapkan dapat teratasi dalam 4 tahun mendatang.
“Ada 10 isu strategis investasi Aceh meliputi (1), Regulasi Pro Investasi, (2), Infrastruktur Konektivitas Pendukung Investasi, (3), Akses Keuangan dan Perbankan, (4), Digitalisasi Pelayanan Investasi, (5), Pengembangan Kawasan Peruntukan Investasi, (6), Peningkatan Partisipasi Masyarakat, (7), Pengembangan SDM dan Kompetensi Tenaga Kerja, (8), Hilirisasi Industri, (9), Persepsi Investor dan Image Branding Aceh, dan (10), Peningkatan Potensi Investasi Halal dan berkelanjutan termasuk NEKA. Isu-isu strategis tersebut diharapkan dapat teratasi dalam 4 tahun mendatang melalui pelibatan para pihak, khususnya SKPA terkait sesuai tupoksi dan kewenangannya, “ sebut Marzuki.
Sementara, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Iklim Penanaman Modal, DPMPTSP Aceh, Rahmadhani, M.Bus juga menambahkan, Workshop Renstra Investasi digelar selama satu hari menghadirkan narasumber utama dari Bappeda Aceh dan DPMPTSP Aceh.
“Untuk menghasilkan output yang strategis dan implementatif selama workshop tersebut, hadir beberapa narasumber dan reviewer akademis, seperti T. Ahmad Dadek, SH, MH, Kepala Bappeda Aceh, Marthunis, ST, DEA, Kepala DPMPTSP Aceh, Saiful Mahdi, S.Si, M.Sc, Ph.D, ICAIOS, USK, DR. Azhari Yahya, SH, MCL, M.A, USK dan Ibnu Mundzir, MA, ICAIOS. Semoga workshop ini menggugah semua pihak untuk membangun Aceh lebih baik melalui Green Investment atau investasi yang bersifat inklusif, berkualitas dan berkelanjutan yang akan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat Aceh, “ ujar Rahmadhani.
Selanjutnya Rahmadhani mengungkapkan bahwa Renstra Investasi Aceh Tahun 2023-2026 merupakan Renstra inisiatif dan inovatif. Selain menjadi referensi bersama dalam membangun Aceh melalui investasi, juga akan menjadi salah satu inovasi strategis Aceh untuk diusulkan pada Inovasi Government Award (IGA) Tahun 2023 nanti. Namun, masih memerlukan penyempurnaan kembali melalui berbagai tahapan pembahasan dan sosialisasi melalui pelibatan para pihak terkait, sebelum diatur melalui Keputusan Gubernur Aceh atau Peraturan Gubernur Aceh.
Workshop ini dilaksanakan melalui dukungan lembaga konservasi Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS IP) yang merupakan bagian dari mitra pembangunan Pemerintah Aceh. (Red)






