Sipnews.id|Aceh Besar — Aula Hotel Hijrah Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, berubah menjadi ruang dialektika politik yang hangat, Sabtu pagi (21/06/2025).
Kaum muda, sebagian besar mahasiswa dan pemuda gampong, berkumpul dalam sebuah agenda penting: Pendidikan Politik dan Kaderisasi DPW Muda Seudang, sayap pemuda Partai Aceh Kabupaten Aceh Besar.
Acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Aceh Aceh Besar, Hasballah S.Ag, yang dalam pidatonya menekankan pentingnya membumikan kesadaran politik di kalangan generasi muda.
Bukan sekadar soal pemilu, kata Hasballah, tapi tentang menghidupkan kembali ideologi ke-Acehan yang lahir dari sejarah panjang perjuangan bangsa Aceh.
“Kita tidak boleh buta arah. Muda-mudi Aceh hari ini harus melek politik, bukan apatis. Jangan sekali-kali melupakan sejarah Aceh, dari Cut Nyak Dhien sampai MoU Helsinki. Politik bukan cuma soal kekuasaan, tapi keberlanjutan harga diri bangsa Aceh,” tegas Hasballah dengan nada lantang namun penuh kehangatan.
Pendidikan politik ini menjadi bagian dari upaya regenerasi dan konsolidasi ideologis kader-kader muda Partai Aceh yang tergabung dalam Muda Seudang—organisasi sayap yang digadang menjadi inkubator calon pemimpin masa depan.
Momentum ini tak hanya diisi pidato formal, tapi juga diskusi panel interaktif, pemutaran dokumenter sejarah Aceh, dan kelas-kelas kecil tentang strategi komunikasi politik digital.
Suasana terasa hidup, apalagi ketika sesi tanya jawab dibuka. Seorang peserta dari Lhoong dengan lugas bertanya, “Apa arti ideologi Aceh dalam dunia yang serba pragmatis hari ini?”
Pertanyaan itu dijawab Hasballah dengan penuh semangat, “Ideologi Aceh adalah tentang keberpihakan. Kita berpihak kepada kebenaran, kepada rakyat, dan kepada warisan budaya yang membentuk jati diri kita. Jika pemuda kehilangan itu, maka Aceh kehilangan masa depan.”
Ketua Koordinator Pusat sekaligus ketua pelaksana acara, Rozi Ananda, menyebutkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menghidupkan kembali semangat keunangan (nilai-nilai luhur) dalam cara berpikir dan bertindak pemuda.
“Kami ingin agar anak muda Aceh tidak hanya sibuk di TikTok, tapi juga bisa membaca politik dengan cerdas dan bijak,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Muda Seudang bukan sekadar organisasi. Ini adalah ruang kolektif untuk menyemai keberanian, kesadaran, dan konsistensi perjuangan politik yang berpihak pada rakyat Aceh.”
Acara ini dirancang bukan sekadar simbolis, melainkan awal dari rangkaian kaderisasi berkelanjutan.
Akan ada pelatihan lanjutan, penguatan literasi politik, serta program internship untuk kader muda ke kantor-kantor partai dan lembaga publik.
Hasballah berharap, dari forum seperti inilah akan lahir the next generation pejuang politik Aceh yang tak kehilangan arah.
“Kalian bukan hanya pewaris sejarah. Kalian adalah pembuat sejarah baru,” tutupnya disambut tepuk tangan peserta.
Di tengah maraknya apatisme politik generasi muda, Muda Seudang memilih untuk bangkit. Karena bagi mereka, menjadi muda bukan alasan untuk diam.
Justru saatnya bersuara dan mengakar—untuk Aceh yang lebih sadar, kuat, dan bermartabat.






