SUBULUSSALAM — Muhammad Fazri Ilham menilai Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil perlu tetap dilibatkan dalam ruang komunikasi, konsolidasi, dan pembangunan kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela). Menurutnya, persoalan ini perlu dilihat secara utuh dengan mempertimbangkan sejarah, hubungan emosional masyarakat, kedekatan sosial budaya, serta aksesibilitas antarwilayah.
Fazri mengatakan, pembahasan mengenai kawasan Barsela dan kelompok Aceh Leuser Antara (ALA) tidak seharusnya membuat Subulussalam dan Aceh Singkil kehilangan ruang untuk menentukan arah pembangunan bersama daerah-daerah yang memiliki hubungan historis dengan keduanya.
“Kalau kita melihat sejarah, Kota Subulussalam merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Singkil, sedangkan Aceh Singkil merupakan hasil pemekaran dari Aceh Selatan. Artinya, ada hubungan sejarah yang panjang antara Subulussalam, Aceh Singkil, dan kawasan Barat Selatan Aceh yang tidak bisa kita abaikan begitu saja,” ujar Fazri.
Ia menjelaskan, secara historis, Aceh Selatan dan Aceh Barat merupakan dua kabupaten besar yang menjadi bagian penting dari perjalanan terbentuknya wilayah-wilayah di kawasan pantai barat selatan Aceh. Seiring perkembangan pemerintahan dan pemekaran daerah, wilayah-wilayah tersebut kemudian memiliki pemerintahan sendiri.
Namun, menurutnya, pemekaran administratif tidak semestinya menghilangkan hubungan sejarah, persaudaraan, dan kedekatan emosional masyarakat yang telah terbangun sejak lama.
Fazri juga mengakui bahwa secara adat, budaya, dan kekerabatan, masyarakat Subulussalam dan Aceh Singkil memiliki kedekatan dengan kawasan ALA. Akan tetapi, ia menilai kedekatan tersebut tidak harus dipertentangkan dengan hubungan kedua daerah itu dengan Barsela.
“Kita tidak menafikan bahwa secara budaya dan kekerabatan, Subulussalam dan Aceh Singkil memiliki kedekatan dengan kawasan ALA. Itu bagian dari identitas masyarakat kita. Tetapi, secara emosional, sejarah, dan hubungan sosial, kita juga memiliki ikatan yang kuat dengan Barsela. Jadi, jangan sampai persoalan pembagian kawasan justru membuat kita seolah-olah harus memilih salah satu dan meninggalkan yang lain,” tegasnya.
Selain sejarah dan hubungan sosial, Fazri menilai faktor geografis serta aksesibilitas juga harus menjadi pertimbangan. Jarak tempuh, kemudahan koordinasi, dan efektivitas hubungan antardaerah penting diperhatikan agar kerja sama pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan Subulussalam dan Aceh Singkil dalam forum-forum Barsela dapat membuka ruang pembahasan yang lebih luas mengenai pembangunan infrastruktur, konektivitas wilayah, penguatan ekonomi, serta pemerataan pembangunan di kawasan pantai barat selatan Aceh.
“Yang kita inginkan bukan mempertentangkan Barsela dengan ALA. Kita menghormati semua hubungan sejarah dan budaya yang ada. Namun, tidak elok jika Subulussalam dan Aceh Singkil justru tidak dilibatkan dalam pembahasan Barsela, padahal ada hubungan sejarah dan kedekatan emosional yang kuat. Kita harus melihat persoalan ini secara bijaksana dan tidak hanya berdasarkan pengelompokan wilayah,” tambahnya.
Fazri berharap tokoh masyarakat, pemuda, paguyuban, dan para pemangku kebijakan dapat membangun komunikasi yang terbuka agar kepentingan Subulussalam dan Aceh Singkil tetap terakomodasi dalam setiap pembahasan strategis mengenai masa depan kawasan.
Ia menegaskan, semangat yang perlu dibangun bukanlah persaingan antarkawasan, melainkan kebersamaan untuk memastikan setiap daerah memiliki ruang yang adil dalam memperjuangkan kepentingan masyarakatnya.
“Subulussalam dan Aceh Singkil memiliki akar sejarah, hubungan budaya, dan kedekatan emosional yang tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang. Karena itu, mari kita duduk bersama, membuka ruang dialog, dan memastikan bahwa kepentingan masyarakat tidak dikesampingkan hanya karena perbedaan pengelompokan kawasan,” tutup Muhammad Fazri Ilham.









